Minggu, 09 Agustus 2015

Bukan Wanita Jalang

beberapa waktu lalu team slowboy mendapat kiriman cerita dan ilustrasi foto dan seorang sahabat yang memberikan sebuah cerita unik dari sebuah penelitian observatif kecil yang dilakukan olehnya. dan sebagai apresiasi maka kami menampil kan dalam blog untuk cerita mingguan minggu ini. baca gaes
Aku Bukan Wanita Jalang
credit by : jio_reaper photograph
Oleh:
E K
Aku gadis berusia 17 tahun. Wajahku sederhana, kalem, dan lembut. Mungkin orang-orang tak menyebutku cantik, tapi manis. Ya itulah yang mereka katakan padaku. Rambutku mudah goyah sebahu. Tubuhku tak besar, kurus, dan sexy. Yang paling aku senangi adalah bagian betisku. Aku terlihat sexy dengan mini dressku dan highheels cokelat. Namaku Rika. Aku siswa SMK Pembangunan. Aku tidak suka sekolahku. Aku sudah malas sekolah. Capek! Lagian aku juga tak pernah nyambung dengan pelajaran-pelajaran itu. Otakku tak kuat kalau harus menghitung panjang dan lebar bangunan-bangunan khayal. Tapi, di sisi lain, aku suka ektrakurikulerku. Aku aktif ikut kegiatan di luar kelas. Menurutku hidup itu harus berkarya sesuai dengan keinginan kita. Manusia bisa kok hidup tanpa keformalan bangku sekolah. Tapi, bagaimana lagi, tuntutan zaman telah mengubah pola pikir zaman neolitikum menjadi sebuah zaman modern dengan penjualan ijazah. Untung saja sekolah ku sekolah Negeri. Jadi, sebodoh-bodohnya aku, aku tak membeli ijazah.

Ngomong soal ijazah, aku jadi ingat sertifikat baru yang aku punya. 
Hari ini akan aku pamerkan ke teman baruku. Kak Ratna, dia seorang Psikolog muda yang cantik dan sexy. Meski ia wanita berjilbab, tapi model bajunya tak kalah gaulnya dengan kita-kita. Hari ini hari Senin. Aku sudah ada janji untuk curhat dengan Kak Ratna di Rumah makan cepat saji dekat kampusnya. Kebetulan, kampus Kak Ratna dekat dengan sekolahku. Yaa mungkin jaraknya 1 Km.
Pulang sekolah adalah saat yang aku tunggu-tunggu. Aku sudah tidak betah dengan angka-angka yang tak sopannya masuk secara paksa lewat telinga kananku. Saat pulang aku biasa membuang tumpukan angka-angka ini di sampah lewat telinga kiriku. Untuk menghilangkan penat ini, aku ikut ekstra PMR. Aku suka menolong orang, aku suka berbagi pengalaman, dan aku suka ikut kompetisi-kompetisinya. Alhamdulillah sertifikat yang aku maksud tadi adalah sertifikat juara umum dalam salah satu perlombaan extra PMR di kota Telo.

Akhir-akhir ini aku akan sibuk mondar-mandir kota bekas Kerajaan Majapahit. Aku akan berbagi cerita dan pengalaman hidupku. Aku memang bukan orang penting. Aku juga bukan anak pejabat yang mempunyai modal berbicara. Aku hanya anak-anak yang masih belia dan suka manja. Aku sama seperti mereka yang juga masih pakai seragam sekolah. Tapi aku beda. Sangat berbeda.

Mereka bilang aku gila. Iya!
Mereka bilang aku aneh. Iya!
Mereka bilang aku bencong. Tidak! Salah!
Aku wanita!
Meski aku belum tua, tapi aku yakin, aku lebih dewasa dari Kak Ratna.

Hidupku kini sunyi, dulu aku pecinta lelaki. Aku suka membuat mereka nyaman di dekatku. Tapi tak semua lelaki mau denganku. Mungkin hanya 30 persen di dunia ini yang mau dengan sesamanya. Secara fisik aku memang tak cantik. Tapi aku bisa membuat mereka tunduk di tanganku. Diantara teman-temanku, aku yang paling elegan, bermoral, dan setia. Aku tidak sombong, ini kebenaran. Kebenaran yang orang lain sama ratakan dengan kebohongan.

Aku baru di dunia ini, dunia yang sebenarnya sudah lama aku sadari. Aku juga tahu resiko-resiko masuk di dunia ini. Aku sadar, aku telah dewasa, aku harus berani menanggung resiko-resiko masuk ke era ini. Saat gadis-gadis tumbuh besar payudaranya, yang tumbuh besar di aku adalah jakunku. Saat gadis-gadis mulai masuk masa menstruasi, aku mimpi basah. Saat gadis-gadis mulai mengenakan BH, aku juga bisa pakai benda lucu dan imut itu. Ini kebenaran yang harus aku katakan pada siapapun itu. Hidupku tak sempurna mereka, aku tersesat di tubuh Riko. Tubuh yang dulu pernah aku banggakan kini aku sesali. Harusnya aku bisa keluar dari sini, tapi rasio tak bisa menyelesaikan masalah ini. Mungkin aku harus mengubah rasional menjadi tidak rasional.

Sejak umur lima tahun aku suka mengenakan rok, selendang, dan lipstick. Entah sudah bawaan kali. Kini aku memberanikan diri untuk menunjukkan jati diri. Hobiku sedikit berubah. Aku lebih suka keluar malam dengan baju mini dan sepatu hak tinggi. Aku mulai serius ingin mencintai lelaki. Sampai saat itu tiba.
***
Aku mulai merasa hari-hariku membosankan tanpa kekasih. Aku mengacak nomor yang ada di handphone untuk mencari teman. Acakan pertama, ku tekan nomor berdasarkan tanggal lahirku, tapi ahh...gagal, yang mengangkat bukan tipeku. Acakan kedua, nomor absensiku. Tapi gagal lagi. Itu juga bukan tipeku.

“Kali ini nggak boleh gagal!!” gumamku geram. Takut pulsaku keburu habis. Ku tekan nomor berdasarkan tanggal hari ini.

“08528042012”  Ku tekan tombol-tombol handphone pintarku. Eitss.. ada nada dering lagu Peterpan yang judulnya ‘Ku Katakan Dengan Indah’. Senang sekali mendengarnya, aku terbawa lagu ini. Aku menikmati setiap desah nafas Ariel, vocalisnya. Kebetulan sekali pemiliknya tak segera mengangkat telponku. Ku ulang lagi, dan lagi. Gerak tubuhku mengikuti suara drum Peterpan, tak sadar aku sedang menelpon.

“Hallo!” serontak suara Ariel berubah jadi suara berat lelaki. Aku kaget dan belum siap untuk menjawab. Suaranya menggetarkan jantungku.
“Hallo!” tegasnya lagi. Aku masih gugup dan tak tahu apa yang harus ku jawab.aku bingung harus ngomong apa?
“Hallo !!!” suaranya semakin keras dan semakin membuat aku takut. Dengan paksa aku jawab.
“Iya, hallo, Toni, kamu apa kabar?” celetukku tak terkontrol. Aku bingung mau ngomong apa.
“Toni? Maaf ini Tedy, bukan Toni. Anda salah sambung mbak!” lembut suara dan kesopanannya membuat hati ini makin bergetar dan salah tingkah. Aku ada ide untuk memperpanjang percakapan ini.
“Lho ini nomor yang Toni kasih ke aku kok!” padahal aku juga tak tahu Toni itu anak siapa. Hahahaha... aku ngawur aja sebut nama.
“Mbak, saya ini Tedy, saya sudah pakai nomor ini sejak enam tahun yang lalu.” Jelasnya sopan. Dia memanggilku ‘mbak’ pula. Sudah selembut itukah suaraku. Apa jakun ini sudah benar-benar lemas, hingga dia memanggilku ‘mbak’.
“Tapi mas, beneran Toni ngasih aku nomor ini.” Aku berusaha ngeyel untuk memperpanjang percakapan dan menarik simpatinya.
“Mbak, memang Toni siapa yang mbak maksud? Toni Sailendra kah? Atau Toni Hermawan?” dia menyebutkan nama orang yang satupun aku juga tak tahu siapa itu.
“Toni Ramadhan” jawabku ngawur.
“Siapa itu ya? Teman-temanku memang kadang usil, mbak! Tak jarang mereka ngasih nomor handphone saya ke wanita-wanita jalan.”
“Heh, tapi aku bukan wanita jalan ya!” aku marah, dan ku tutup telponnya. Siapa juga yang suka di sama-sama kan dengan wanita jalang.
Handphone ku berdering. Ku lihta nomor itu kembali menelponku. Aku tak menyangka dia akan menelpon kembali. Segera ku angkat telponnya.

“Hallo” jawabku marah.
“Mbak, saya minta maaf kalau kata-kata saya tadi menyinggung atau menyakiti.”
“Hm..OK!” jawabku sadis.
“Tapi ngomong-ngomong, Toni bilang apa sama mbak?” busyeet, aku kena batunya, aku harus jawab apa ini soal Toni. Tak mungkin aku bilang aku yang bohong. Atau dia akan mengatakan aku jalang juga.
“Sudahlah mas, ndak papa, saya juga malas ngomong soal Toni.” Aku ngeles.
“Oh gitu, ya sudah, maafkan teman saya yang jahil ya!” jawabnya sopan. Suaranya berat sekali. Sepertinya dia agak sedikit gendut atau cowok cool. Aku suka suaranya.

Perkenalan itu berlanjut sampai satu bulan. Kami nyaman dengan telpon dan SMS. Dia tidak tahu kalau aku berbeda dari gadis-gadis yang lain. Tapi aku juga tak tahu juga, apakah dia sadar suaraku sedikit berat dan berbeda dengan yang lain. Aku sudah terlanjur nyaman dengan keisenganku dengan dia.
Cerita ini kemudian naik hingga saling curhat. Aku juga merasa dia nyaman dengan aku. Dia selalu perhatian denganku. Aku senang juga memperhatikan dia. Tak jarang aku mengingatkan dia untuk makan tepat waktu. Dia lelaki pekerja keras yang kerja di hotel bintang tiga. Dia bekerja di bagian manajer roomboys. Dia menunjukkan fotonya di Facebook. Ku lihat dia lelaki aktif dengan dikelilingi sejuta cowok-cowok ganteng. Badannya six packs, tinggi, putih, dan ganteng.


Dia mengajakku bertemu. Ini bagian yang paling aku benci. Aku tak mau orang yang aku sukai kabur hanya karena melihat fisikku. Aku sudah bilang, aku tak cantik, aku tak sexy. Aku bingung. Harus bagaimana aku menjelaskan. Mau tidak mau aku harus jujur. Jika tidak, dia akan jauh lebih kecewa. Ada dua resiko yang harus aku terima. Aku akan sendiri karena kekecewaannya, atau aku akan malu karena fisikku sendiri. Ya!! Aku harus tegas! Aku akan mengatakan saja ini padanya. Aku akan telpon dia malam ini juga.

yuk tunggu lanjutan ceritanya minggu depan gais....

Sabtu, 01 Agustus 2015

Agustus dan Pahitnya Espresso


Hhai agustus, 

assalamualaikum


be nice please…

Agustus datang, taraaaaa….

Beberapa waktu kini berlalu, antara kamu dan aku masih dalam belenggu, kenapa ini begitu lugu. Oh  bukan ini hanya dagelan lucu yang memang sudah menjadi masa lalu. Agustus, bulan purnama itu datang. Tepat diatas kepalaku, beribu bintang bertabur menghiasi agustus yang tidak lagi hujan. Sinar purnama itu menyembuhkan ku. Sejak kapan aku terluka? Bahkan bekas luka itu tidak terlihat, bekas benang fibrin yang menyulam luka itu juga tak ada.

Kamu masih disitu kah?

Aku tidak bisa melihatmu lagi, kita tidak lagi dalam labuhan yang sama. Purnamamu dan purnamaku sudah berbeda. Bintang dan mimpimu pun juga berbeda. Aku mencoba menceritakan disini. Semua itu berlalu. Harapan – kesedihan – luka – lara – bahkan tangis yang membasahi pipi manismu itu, sudah tak kulihat. Mereka lewat. Layaknya luka yang akan sembuh dengan sendirinya, atau hanya kesepakatan kita untuk membiarkan luka itu sembuh sendiri.

Tidak harus ada pertemuan?

Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita bertemu dalam satu bingkai yang sama, yang hanya aku ingat sekarang hanyalah secangkir kopi yang masih panas di depanku. Semua menjadi kenangan, bahkan beberapa orang mencoba untuk merapikan kenangannya. Sedangkan agustus ini tak mau kubuang lagi waktu ku. Hanya untuk menunggu.

Kamu pasti tau rasa manis itu gak selalu baik kan. Bahkan takaran yang tidak pas akan membuatmu sakit, bahkan ras manis itu akan menutupi rasa pahit dari kopi yang sudah kita nikmati. Lagi-lagi pahit sudah ku bilang tak selamanya tidak asik. Pait itu membuat kita tetap terjaga.

Kamu dimana? Masih kan kamu terjaga disana? Atau sudah lupa akan arti terjaga menjaga mimpi dan harapan kita agar tetap hidup.

Aku berjalan melewati orang lalu lalang satu demi satu terlewati. Aku menikmati kopi ini dalam sebuah kedai yang baru aku datangi. Disini tak begitu ramai dengan pasang mata, seperti kedai kita waktu itu. Disini hanya beberapa pasang mata saja yang sengaja menikmati malam purnama di awal agustus.

Masih ingat kah?

Ada yang dan ada yang pergi, gak tau pergi kemana, yang jelas menentukan pilihannya walaupun mereka gak punya pilihan. Semua akan berlalu, ada yang datang dan pergi, ada yang hadir adapun yang mulai hengkang. Akan ada yang melepas namun terkadang tidak harus menerimanya, bahkan menjadi logam mulia golongan 8 yang memiliki ikatan kovalen sempurna membuat mereka nyaman, nyaman sendiri bebas bahkan tak harus memilih. Layaknya sebuah pilihan itu adalah secangkir kopi yang ada berdekatan dengan gula, tinggal kita yang mimilih menambahkan gula itu seberapa, atau kita tinggalkan gula itu karena terlalu banyak kita nikmati janji manis? Yang jelas janji manis tidak akan bereaksi dengan metabolism dalam darahmu, namun itu akan membuat kacau kinerja aliran darahmu.

Espresso ini sangat pas untuk malam ini, dengan beberapa bolpoint dan pocket bookku dibawah purnama. Aku sudah cukup lelah menghadapi jalan yang berparikel dengan gas-gas rumah kaca bertebaran melambung serta melayang-layang di hadapanku, sehingga mata ini mulai teriritasi.

Musollah kecil dan air wudhu di kedai ini sedikit mengobati keresahan dari jalan yang padat kulalui tadi. Duduk di meja dengan kursi yang cukup unik di kedai ini dan diiringi oleh beberapa lagu dari alunan soundsytem yang menggantung di sudut-sudut ruangan sedikit memberikan inspirasi dan membantu melepas penat yang sudah memuncak.

Agustus ini memang begitu special, karena dengan kesendirian ini membantuku lebih menikmati agustus tanpa harus bertele-tele dengan harapan dan menunggu hal yang tak menentu. Yang jelas ini special. Aku tak perlu pusing melihat nominal-nominal lagi. Kini sangat special. Beberapa agustus tahun lalu aku banyak beraharap dan ditutup dengan hasil dari  sebuah perjuangan. Kemudian di penghujung agustus itu aku sudah mendapatkan apa yang aku dapatkan lebih besar dan indah, yang ketika yang kita minta itu datang tepat pada waktunya.

Agustus memang pembelajaran untuk menjalani setiap hari dalam hidup dengan sederhana dan bahagia. Cukup bahagia dengan apa yang kita rasa cukup. Bahkan kamu yang sudah tak  lagi ada kabar aku tetap menunggunya, bagi ku itu sederhana.

Sedikit penantian itu adalah proses kesabaran. Tidak terlalu mengada-ada keadaan dan tidak begitu alay dalam mengungkapkan perasaan. Karena pada dasarnya kita pasti akan ditertawakan namun beberapa orang akan melihat dan akan memberikan sebuah senyuman ketulusan.

Kita akan tau kapan kita berhenti menunggu dan bergerak maju, kita yang akan tau kapan kita akan melangkah lagi, karena kaki ini masih kuat untuk melaju namun kaki ini menghargai setiap penantian itu adalah sedikit tindakan yang mampu membawa ke jalan selanjutnya, karena melangkah itu punya tujuan bukan kita melangkah untuk meninggalkan. Kita melangkah untuk melihat dunia.

Tak ada kata lelah karena agutus ini menfasilitasi  kamu dengan purnama dan ribuan bintang yang akan membawamu jauh dari arti kemenangan, yaitu ketenangan.

Sedikit obrolan kita di waktu lampau cukup membuat kita tau bahwa kita kemarin masih datang tepat waktu sekedar bercerita bertukar obsesi dan merangkum kisah selama kita tidak bertemu. Indahnya jerman, cantiknya Makassar, bahkan depok yang sudah mendidik kita menjadi saksi bahwa kaki kita kuat betumpu dan terus maju, mata kita masih kuat untuk tejaga dan merangkai cerita baru yang akan kita ceritakan di waktu kita bertemu kembali. Entah itu untuk kembali atau hanya sebatas pertemuan biasa tanpa cerita yang satu sama lain menggapnya menarik.
“selamat agustus ber, kamu disana baik-baik ya, kejar mimpi kamu, jangan berhenti, karena disaat kamu berhenti kamu akan tertinggal dengan yang lain, kamu tetap fokus ya, kamu harus tetap menjaga apa yang sudah kamu punya dan meningkatkan apa yang sudah kamu dapat” (2009)
Ucapan dari benua biru itu ku terima agustus beberapa tahun mundur dari sekarang, namun tidak pernah ku balas, hanya masuk dalam inbox pesan pribadi di email dan entah kenapa terselip di spam. Yang jelas aku menerka kalimat sederhana itu bahwa disaat aku berhenti aku akan tertinggal, bahkan disaat berhenti aku hanya mencoba mencari tau jalan yang akan harus tempuh selanjutnya, ini bukan berpolitik dengan waktu, karena waktu itu akan terus tereduksi. Fokus adalah bagian terpenting, namun sedikit menanti adalah cara tetap untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dalam strategi kita.
“selamat ulang tahun cit, kamu hebat pokoknya, kamu yang gak pernah menyerah, kamu yang terus berjuang, dan kamu yang banyak mengajarkanku apa itu berjalan dan melangkah kedepan. Aku harap memang kamu” (2012)
Beberapa kalimat yang datang dari kota jogja itu membuatku waktu itu benar-benar merasakan bahwa aku tidak sendiri. Itu adalah semangat yang tak berujung dan terus membara, dimana aku belajar dan terus belajar, berjuang mesti di caci dan di jatuhkan. Berjuang itu bukanlah guyonan nyentrik yang semua orang bisa tuliskan dalam catatannya, berjuang itu adalah mengenal dan menjaga langkah kaki dengan ritme dan penuh nada. Karena berjuang itu bukan lah makian yang harus kamu ungkapkan dengan mulut, berjuang itu adalah habbit. Kota depok yang membesarkan jiwa ku untuk lapang dada melihatmu menjauh dan pergi tanpa kembali mengucapkan sepatah kata pun, hanya tindakan. Pergi!!
“selamat ulang tahun mas, semoga kamu makin keren dan gombal nya makin jago ya, mas jangan suka ngilang, karena mas bukan siluman mimpi yang hanya bisa mimpi, aku yakin mas bisa ngewujudkan mimpi mas yang super keren itu” (2014)
Tak akan lari mimpi bila dikejar, karena mimpi adalah teman baik sebuah perjuangan, dimana slogan kontingen nya adalah hasil tak akan menghiati perjuangan. Begitu banyak yang ku kenal dan ku coba kenal dengan sengaja, malah waktu itu kamu datang dengan ketidaksengajaan dan senyumanmu hampir membuatku lupa bahwa kopi ini pahit. Namun kamu adalah ketidak sengajaan yang aku temukan didalam kerumunan masyarakat bugis dimana suku jawa adalah minoritas. Anggun cerdas dan sederhana yang membuat ku sedikit terpapras menjadi sangat teduh hanya dengan menikmati lantuanan live music dan cappuccino itu.

Lantas ini bukan lah akhir dari perjuangan karena semua itu sudah berlalu menjadi sebuah baris deretan kalimat yang layak untuk di perdengarkan. Tantangan demi tantangan, kaki yang sudah mulai melangkah menemukan jalan, bahkan aku tau jalan itu tak begitu lurus, eletron di otak sudah mulai bertabrakan dan menghubungkan syaraf sehingga menghasilkan adrenaline untuk siap, siapa apa? Sedangkan didepanku hanya ada secangkir kopi dan diatasku ada purnama setelah itu bintang yang bertaburan.

Kapal ini baru saja meninggalkan labuannya, berlayar dan memaknai ombak yang begitu kencang itu. Menjadikan tantangan yang nyata, gemerlap bintang dan purnama pasti akan dirasakan di hamparan samudra luas. Yang jelas aku berterima kasih kepada agustus sebelumnya yang menghiasinya dengan rasa.

Espresso ini masih menemaniku, menikmati malam minggu yang begitu sahdu. Aku tersenyum
Seseorang datang untuk pergi, kemudian mencari alasan. Pahit bukan?
Aku coba menambahkan gula agar sedikit manis.
Tidak untuk mencari alasan, karena alasan itu adalah pergi.
Jika cinta adalah anugrah dan fitrah? Kenapa kita dipertemukan untuk patah dan ditinggal pergi dengan banyak alasan?

Tidak seteoritis itu cinta, karena cinta adalah rasa, dimana kamu harus mengerti bahwa ada hikmah dibalik itu semua. Jika kamu tidak memilih pergi, bersyukurlah karena kamu baru saja membuktikan bahwa fitrah itu bukan teori yang banyak alasan.

Jika dipertemukan kembali kamu akan tahu seberapa jauh kamu membuang waktu dan tidak pernah mensyukuri.

Agustusku, adalah perjuangan yang diharuskan dan dikaruniakan kepadaku.
Be nice please agustus…



see ya next saturday night gais.....

Sabtu, 25 Juli 2015

Cappuccino Dingin Semester Akhir

credit by R.I

Hari ini tepat hari ke 20 puasa ramadhan, bertepatan dengan hari dimana jadwal sidang kelulusan kamu di uji, setelah beberapa hari dan malam kita saling membahas kertas yang terbendel berisi tentang materi penelitianmu, akhirnya hari ini kamu maju di kursi persidangan kelulusan dimana hasil ini akan menentukan. Salah satunya adalah menentukan perjumpaan kita tidak akan seperti biasanya. Tentunya dengan gelar sarjana mu yang kamu raih dan dengan beberapa sks mata kuliahku yang akan aku tempuh semester depan.

Kamu tidak akan sering lagi berkunjung dikampus ini, ya setidaknya mulai terhitung dari beberapa hari sekarang tak akan lagi aku lihat kamu di taman kampus ungu itu. Bahkan aku masih belum sepenuhnya menyangka bahwa kedekatan kita akan berbeda lagi bahasan. Kamu sebentar lagi akan sibuk dan mendapatkan pekerjaan, tentunya sudah lama sekali kamu mencita-citakan ini. Bagiku semester terakhir dan penelitian mu adalah bagian dari mata kuliah yang tidak masuk dalam daftar nilai indeks prestasi. Ini hanya sebatas ujian mahasiswa semester akhir, tentunya aku yakin kamu setidaknya tidak akan beranjak cepat dari kampus ini karena beberapa keperluan selepas sidang yang akan bakal menyibukkan diri di kampus.

Tepat pukul 7 siang kamu memberikan kabar kepadaku melalui pesan singkat bahwa sidang kelulusan mu akan dilaksanakan hari ini, namun kehadiranku tidak dimungkin dikarenakan pekerjaan ku di hari ini sangat tidak bersahabat.

Obrolan kita tadi malam memang sangat lama bahkan tak selama biasanya, bahasan tentang materi ujian mu dan presentasi buatanmu itu membuat mala mini kite terhubung di ujung telepon serta berdiskusi seolah tak berjarak. Kamu yang sedari awal telpon khawatir akan hari esok dimana dosen penguji yang belum memastikan kehadirannya, namun kamu juga beruntung mendapatkan pembimbing luar yang begitu bersahabat karena satu almamater dan sahabat dari salah seorang pamanmu.

Aku pun agak khawatir akan hari ini, jam sidang mu pukul 10 akan dimulai beberapa jam lagi.entah siapa yang hadir menemani kamu di kampus, aku hanya khawatir akan kelancaran sidangmu, aku hanya khawatir kamu salah ngomong. Tapi aku yakin kamu bisa melewati ini. Dan aku pun hanya disini berdoa agar kamu lulus dengan nilai yang memuaskan.

**
Tepat pukul 10 dan aku yakin kamu sudah ada dideapan 3 orang penguji untuk memaparkan hasil penelitianmu. Semoga kamu tidak lupa yang kita pelajari di ujung telpon tadi malam, dan semoga segera mengabariku akan hasil dari sidang ujian hari ini.

Berjam-jam hingga sore aku menunggu kabar darimu,

Tepat sebelum adzan ashar berkumandang kamu datang lewat beberapa kalimat yang hadir dalam handphone ku.

“assalamualaikum, pasti masih kerja ya? Alhamdulillah aku sudah selesai sidang, dan sekarang aku harus ke bogor untuk sidang lanjutan karena dosen pengujiku tidak bisa hadir dan aku sidang dirumah beliau”

Sangat senang sekaligus lega perasaan ku, setidaknya aku bisa menemani nya hingga detik-detik kelulusanya, lebih tepatnya aku lega bisa ada di saat detik-detik kelulusannya.

Dulu aku memang pernah sedikit berangan bahwa aku bisa ada dan membantu sekuat tenaga di detik detik kritismu. Sekarang itu terwujud, aku disini sedari beberapa bulan lalu aku menemani mu tanpa memperdulikan keadaan ku sendiri yang seolah bekerja dan bertindak semua melebihi kapasitas yang aku miliki, layaknya biasa aku mengejar kelas dan ujian di sore hari.

Aku sadar saat ini bahwa kekuatan itu ada di tekad dan niat, seberapa lemah kita, kita masih memiliki kekuatan yang tak terbatas disaat kita diselimuti tekad. Kata menyerah memang tidak masuk dalam kamus kehidupanku. Bahkan sedari awal aku dekatmu tak kukenal kata menyerah.

Ada dan selalu ada, hal yang kucoba untuk menjadi harga tawar mendapatkan hati mu. yang ku tahu bahwa hatimu baru saja sembuh, atau beberapa waktu lalu terluka. Tentunya bukan aku yang memberikan luka, aku hanya menjadikan penawar entah itu memiliki arti atau tidak, setidaknya aku disini sudah disini dan siap menunggu kamu untuk tetap di sini dan kesana melangkah bersama ku.

Memang hati mu sudah meradang bahkan begitu terluka. Aku hanya ingin menjadi antibiotic agar luka hatimu tidak menginfeksi jiwa mu. Karena aku yakin bahwa hal yang dilakukan dengan hati akan sampai ke hati juga.

Sekarang, kamu baru saja merayakan kebahagian mu atas terwujudnya cita-cita mu untuk lulus dari kampus yang sudah berjasa dalam pertemuan kita. Kamu sangat senang. Tentunya, aku ikut merasakannya. Begitu damai kurasa, karena aku bahagia. Bahagia ini adalah ikut merasakan dan membuat orang lain bahagia, orang lain itu tak lain tak bukan adalah kamu yang beberapa bulan beberapa bulan lalu sangat sering berjumpa denganku, aku yang telah jatuh hati padamu sejak pertama kali kita, oh maaf salah bukan kita tapi aku. Aku yang menata matamu dari kejauhan, menatapmu dalam kesedihan.

Namun semua itu sudah terlewati, sekarang kamu bagaikan candu. Tak ada nomor lain yang mampir di handpone ku ini kecuali nama kamu. Tak ada gambar lain di layar pembuka handphoneku, kecuali gambar tangan kita berdua yang sudah aku abadikan dan aku selalu pasang di layar handphoneku. Gambar itu adalah satu-satunya gambar yang berhasil aku ambil dan tak adalagi, walaupun cuman gambar tangan kita berdua dan cappuccino dingin yang kita pesan waktu itu.


Sekarang kamu akan lulus, kamu akan memiliki dunia baru, dan kamu akan pergi. Aku harap kamu gak benar benar pergi dariku. Karena kamu masih belum tau dan aku menyimpan rasa itu. Aku hanya tidak ingin membuat dunia yang selalu kita buat dengan segelas cappuccino itu akan segera berakhir.

Sore akan segera berakhir dan ini adalah sudah masuk libur semester. Seusai absen, aku masih diam di depan kantor duduk diatas motor menunggu kabar dari kamu yang masih menjalani sidang dirumah dosen penguji di daerah bogor. Lama tak kunjung ada kabarmu, senja yang sudah memerah membuat aku memutuskan untuk jalan menuju sebuah mall yang tak jauh dari kantor, aku ingin sekedar makan dan duduk-duduk disana sambil menikmati sore.

Tak lama setelah aku masuk dalam mall itu, handphoneku berbunyi dan itu kamu memberikan kabar bahwa kamu sudah dinyatakan lulus dan hanya sedikit revisi terhadap hasil penelitianmu. Sangat lega tentunya kurasa, setelah pertemuan beberapa bulan terakhir yang di warnai dengan diskusi dan pedebatan yang kadang membuat kita terlalu serius menghadapi lembaran-lembaran yang isi nya terkadang terlalu ilmiah untuk diperdebatkan dalam sebuah kedai kopi dengan mata  berinteraski hampir dalam setiap kalimat yang berbuah paragraph itu. 

Tumpukan buku tebal yang penuh dengan teori kajian ilmiah membuat kamu dan aku selalu observatif dengan tema penelitianmu. Bahkan aku belum sampai ditahap yang kamu lalui, aku hanya mencoba membaur dan menyatu dengan teori-teori yang pasti akan membosankan jika aku hanya mempelajarinya sendiri, begitu pun dengan kamu yang pasti malas menyentuh buku-buku tebal hasil kajian ilmiah sebelum-sebelumnya.
Pertemuan kita beberapa bulan itu membuat kita mengerti akan hal-hal yang tidak kita mengerti sebelumnya, teori penelitian, jurnal penelitian, dasar-dasar penelitian, kualitatif dan kuantitatif serta satu hal yang mengeinisiasi tanpa bantuan katalis masuk merusak sistem logikaku, hal itu adalah dasar teori nyaman dalam hati yang sebetulnya tidak ada dalam kumpulan kajian ilmiah itu
aku masih dalam lamunan, di salah satu kedai kopi dalam mall ini. masih berangan-angan.

kemudian kamu datang depan mataku

senyum manismu menghampiri aku dan memecahkan lamunanku.

"aku udah lulus dong, kamu kenapa gak bilang ada disini.. chatku di cuekin coba"
"masyaallah aku lupa... maaaf maaf"
"ya udah yuk pindah tempat, aku sama papa tadi kesini, rumah pengujiku tadi deket sama mall ini, aku lihat kamu tadi duduk disini makanya langsung aku hampiri."
"wah kebetulan kalo gitu ya"
"yaudah buruan ayokk kita kesana"

aku dan indri menuju ke restoran sebelah kedai tempat aku melamun sedari tadi. sesampainya di restoran cepat saji itu, aku dipertemukan dengan papa indri. senyum orangtua paruh baya ini begitu menghangatkan dan terlihat begitu penyayang. indri yang merupakan anak sulung dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarganya itu memang sangat dekat dengan papanya. kedekatan dan keakraban mereka sangat terlihat dari cara indri berbicara dengan papanya. begitu pun papa nya yang sangat memperhatikan indri. bahkan aku hanya bisa diam dan sangat canggung.

"pap, ini agus yang aku sering ceritain ke papa waktu itu, dia yang suka nemenin ndi kalo habis bimbingan pa"

aku pun mengelurkan tanganku untuk berkenalan dengan papa indri. senyumnya yang ramah itu menandakan bahwa keberadaanku tidak begitu mengganggu, dan akhirnya aku pun ikut makan bersama mereka.


selamat berjumpa minggu depan gais...

see yaaaaa...... :)