Minggu, 15 November 2015

GEOGRAFIS DAN KOPI

credit by: andi uci

Sabtu Pagi itu aku harus berburu penerbangan menuju jakarta, entah hal apa yang harus kulakukan lagi untuk kesekian kalinya menghadapi kemarahanmu. aku gemetar dan sangat terburu-buru membayar tiket diloket terminal bandara sultan hassanudin makassar.

tiket penerbangan yang sangat pagi ini, 06.25 waktu indonesia timur, aku bahkan lupa untuk menyisir rambut dan memakai gel.

langkah ini sudah tak kuasa untuk sampai di jakarta. menemui kamu yang sedang tak enak hati kepadaku, masalh kita yang sudah berbulan bulan lalu dengan hal yang sama membuat aku selalu bingung dan selalu tidak tau harus berbuat bagaimana lagi. kali ini aku harus benar-benar memperjuangin hubungan ini.

konflik demi konflik terus terjadi seusai kita benar-benar sah terpisah geografis. aku selalu termotivasi jika sebuah masalah dalam hubungan akan selalu mendewasakan. namun masalah itu terlalu datang dnegan bertubi-tubi. ditambah masalah pekerjaan kita yang selalu menjadi beban pikiran.

aku hanya takut kehilang dia, aku selalu ingin mengalah agar dia tidak terlalu berapi api emosinya.

jika laki-laki selalu salah mengapa wanita tidak pernah mencoba untuk memberikan evaluasi kepada laki-laki.

kecerobohan ku yang sudah dikenal sejak dulu olehnya selalu menjadi hal yang paling cepat membuat dia marah akhir-akhir ini.

pagi ini aku masih terlalu lelah, perjalan panjang yang sudah kutempuh setelah tugas dari ujung sulawesi tak mampu menahan dan menjadikan alasan untuk tidak pergi ke jakarta menemui mu yang sedang berapi-api di sana.

tiket sudah ditangan, langkah terburu-buru, dengan tas yang hanya berisi 2 kaos dan satu celana pendek, aku nekad ke jakarta menerjang keterbatasan dan kelelahan yang sudah tertupuk dalam raga ini.

perdebatan kita tadi malam mebuat aku tak bisa tidur semalaman. pesan yang kuketik berkali-kali dan berulang serta panjang lebar tak mampu memberikan penjelasan dan peredam amarahmu.

aku bahkan sampai lupa apa alasan kita berdebat panjang dan berselisih dari kemarin, bahkan sebenarnya kamu pun kuyakin pasti tidak tau kenapa kamu marah kepada ku.

sekarang yang kutahu adalah aku harus segera ke jakarta menemuimu.

**

panggilan boarding sudah menyeruh di setiap ruangan tunggu pagi ini, tertera nomor penerbangan dengan tujuan jakarta. aku pun masuk dengan pikiran sudah tak disini lagi. yang akan kupikirkan selanjutnya adalah bertemu dan menjelaskan apapun yang ku bisa ucapkan kepada kamu.

penerbangan berdurasi 2 jam ini akan terasa sangat mencemaskan, bukan karena cuaca yang buruk namun ini akan firasat buruk petikaian kita. aku hanya takut petikaian kita ini bukan karena keegoisan atau kesalapahaman, aku hanya berpikir akan ada orang lain di antara kita.

terlalu banyak aku menggambil hipotesis untuk masalah kita ini. kamu yang terlalu keras kepala membuatku selalu tak bisa berpikir jernih dalam setiap pertikaian. 

mungkin segelas kopi yang baru saja disuguhkan di pesawat oleh pramugari ini masih panas dan belum hilang habis uap nya, aku pun ingin sedikit menenangkan pikiranku yang sedari tadi itu melulu tentang kamu. 

kuangkat gelas ini dengan tangan yang gemetar, gemetar yang tiba tiba muncul akibat hipotesis yang terlalu banyak membuat tak sampai ujung gelas ke mulutku dan tertumbah di meja kursi depanku. memang tidak terlalu banyak tertumpah namun gelas berbahan kertas tebal itu sudah kehilangan volumenya yang hampir setengah dari seluruh volume kapasitas gelas. 

sebegitunya aku terlalu gemetar dalam menyikapi kemarahanmu. 

kembali pramugari itu menggati kopiku yang tertumpah dengan gelas baru dan isi yang baru.  

pramugari yang  terlihat masih muda sekali itu begitu baik sekali untuk ukuran orang yang sedang dilanda gundah atas kemarahan yang terpisah geografis ini. 

kembali kuraih gelas dari tangan pramugari itu, tangaku masih gemetar terlihat jelas sekali, dan akhirnya tanganku dan tangan pramugari yang putih bersih itu bertemu hingga gelas kopi itu tertata diatas meja kursi depanku. aku masih sangat biasa dengan kejadian ini. karena dipikiranku dipenuhi indri.

pramugari itu masih melihatku namun tatapanku tertuju diatas gelas kopi dan tangan kami yang bertemu diatas meja kursi pesawat dan di selimuti hangat kopi yang tersaji dan baru saja diberikan untuk mengganti kopiku yang tadi sudah jatuh. 

aku melihat plat nama yang ada di dada pramugri itu, pramugari berkulit putih berwajah kalem itu bernama indah, tinggi yang semampai dan senyum ramah khas menjamu para pernumpang selalu terpasang. 

memang sudah tugas dia dalam pesawat memberikan kenyamanan yang penuh kepada penumpangnya. namun aku yang kali ini sedikit menjadi beban ektra pramugari masih belum bisa merasakan pelayanan yang baik dari awak kabin pesawat ini. 

pikirann yang sudah jelas jelas tak melekat di ragaku masih menjadi alasan tanganku gemetar hebat ini.

"hati yang riuh, akan kehilangan cara untuk menjernih dan mengendap" pramugari itu berbisik lirih sembari kopi sudah pas terletak dimejanya

pramugari itu begitu tau bagaimana caranya memberikan sapaan yang bagus dan baik untuk penumpangnya. namun ini bukan sapaan ini sebuah kata emas yang keluar dari mulut pramugri cantik yang baru saja membantuku dan memberikan kopi ku kembali.

dia seolah tahu penumpangnya ini begitu berantakan dengan lika liku hubungan geografis yang tak punya gravitasi. 

ya tak punya gravitasi yang artinya bisa jatuh kapan saja dan dimana saja, bsia juga dibuat melayang seperti diruang hampa yang sudah menjauhi atmosfernya. 

begitu damainya kata itu kelaur dari mulut manisnya pramugari itu, senyum yang ramah itu meneduhkan dan mengendapkan sedikit masalahku yang begitu keruh kurasa. namun senyum dan kata nya tadi membuat aku sedikit tenang dan kehilangan gemetarku yang ada di tangan, sehingga aku tau kopi ini akan bisa membuat aku bisa sedikit relax untuk menghadapi masalah ini.

pramugari itu kulihat sedah menjauh dari deret bangku kosongku. menjauh tapi masih bisa kulihat, 

aku hendak ingin mengucapkan sedikit kata terima kasih kepadanya karena baru saja aku bagun dari kegelisahanku. 

entah kenapa aku berpikir dia adalah penikmat kopi juga sama sepertiku. sehingga kata-kata nya tadi begitu menenangkan dan membuka mata dari gelapnya kegelisahan. seperti kafein yang begitu teduh serta gurih. 

tak sampai benar benar habis kopi ini, dan pikiran yang sudah mulai menjernih, pramugari itu datang melintas dan menghamipiriku kembali sekedar basa-basi menanyakan gelasnya bisa diangkat atau masih mau nambah coffe nya.

sesampainya tawaran itu berhenti pas dari mulut ramahnya itu, aku langsung bergegas mengucapkan terima kasih.

"terima kasih mbk indah sudah menjernihkan pikiran saya"

"iya pak, sudah menjadi tugas saya melayani para penumpang pesawat ini.." ucap nya tak panjang lebar namun tetap dengan aksen ramahnya yang tak hilang

kemudian ia berlalu dengan gelas kosong bekas kopiku tadi.

tak lama setelah itu pengumuman pesawat akan landing dari sang capten pesawat terdengar samar dari sound yang tepat berada diatas kepalaku.

**

sesampainya dijakarta,

langkahku keluar meninggalkan pesawat dan melewati pintu menuju garbarata masih kulihat indah berdiri dan menyapa para penumpang yang turun. kemudian giliranku yang disapa kembali oleh indah sebelum meninggalakan pesawat.

pintu kedatangan pun terbuka. aku segera bergegas mengambil taksi menuju kantornya indri, karena kutahu sabtu setiap akhir bulan dia selalu lembur untuk menyelesaikan laporannya.

waktu jakarta sudah menunjukkan jam 9 siang tapi walaupun  hari sabtu masih tetap saja jakarta macet.

kantor indri yang beradadi daerah super macet dan padat membuat pak supir taksi mengambil jalan pintas yang jaraknya bukan malah dekat malah semakin jauh namun dipastikan tidak terkena macet jakarta yang semakin tahun semakin menggila.

setelah hampir satu jam dari bandara di taksi ini, aku sampai tepat di kantornya indri.

jam sudah menunjukkan waktu setempat pukul 10.

aku  turun dari taksi dan langsung menuju lobi untuk menanyakan kepada receptionist ruangan indri dan memastikan indri betul-betul masuk kantor hari ini.

suasana lobi yang cukup sepi

resepsionis pun mnyuruhku untuk menunggu duduk di sofa tunggu yang berjejer berderet menghadap kearah jalan dengan ruang ac yang begitu nyaman untuk menunggu.

aku disuruh menunggu hingga jam istirahat, karena indri masih di ruangan dan sedang ada pertemuan rapat.

aku pun duduk santai hingga tak sadar aku terlelap tertidur mungkin efek kopi di pesawat tadi sudah hilang ditambah lelahku yang sudah menjenuh.

hingga tak dirasa waktu sudah menunjukkan jam 12 siang yang menandakan waktu istirahat telah tiba.

namun aku masih tertidur diatas sofa nyaman ini dan hanya aku sendiri yang menunggu hingga terlelap.

kemudian aku dibangunkan...

dan

SEE YOU NEXT WEEK GAIS

bersambung

Sabtu, 31 Oktober 2015

JARAK DAN KOPI KITA

credit by: EBITAli

setelah beberapa jam perahu kami memecah ombak, kami pun tiba di ternate. membereskan semua barang dan memindahkan ke daratan yang akan selanjutkan harus di penginapan.

penerbanganku kembali ke makassar masih keesokan harinya. masih ada kurang lebih satu hari untuk istirahat.

aku masih sesekali menengok kearah laut kearah timur tepat dimana speed boat kami dari arah timur meninggalkan pulau kecil itu. pulau kecil yang diaman sudah tersisa jarak dan waktu.

sesekali aku mengingat senyum dan lambaian tangan dari dokter muda itu, senyum dan dekapan manisnya itu masih sedikit kurasa. aku sadar entah kapan waktu lagi akan bisa bertemu langsung dengan dia.

perjalanan ke penginapan pun masih terasa begitu berat. bukan barang bawaan dan sampel yang menumpuk yang membbuat langkah ku ini begitu berat. tapi aku yakin rasa rindu yang belum benar benra tuntas tereduksi isu telah menjadi sedimen yang selalu menguap ke menemus memori yang sudah tersimpan. membuka kenangan kembali sewaktu-waktu.

mungkin ini hanya sementara namun aku selalu berhipotesis salah.

rindu ini makin mengakar, setelah semua yang kudenngar dari bibir tipis dokter berambut panjang di pulau tadi pagi.

sudah lah mungkin ini akan berlalu,

perjalanan ku ke penginapan yang tak jauh dari dermaga sandar speedboat kami. disambut dengan senyum pak haji yang sudah menunggu sedari tadi kedatangan kami. pak haji membawa mobilnya mengantarkan ku menuju penginapan. sedangkan zul dan teman-teman lainnya kembali kerumah meraka karena tugas telah usai.

sesampainya di penginapan, pak haji mengajakku untuk pergi mencari makan. perut yang sedari tadi diguncang ombak inipun rasanya sudah sangat kosong, namun sedari tadi juga aku tidak merasakan lapar sama sekali, yang hanya ku rasakan adalah rasa jauh terpisah lautan kembali dengan uty.

aku diantar pak haji untuk menaruh semua barang dan sampel di kamar penginapan. kemudian melanjutkan untuk pergi mencari makan. tak lama setelah mengunci kembali pintu hotel, handphoneku pun ku nyalakan kembali.

efek besar meninggal pulau di ujung utara itu adalah aku lupa bahwa aku punya handphone yang harus kunyalakan.

begitu handphone menyala begitu banyak pesan yang masuk. salah satunya adalah dari puspa.  tak sempat ku menyelesaikan membaca pesan itu, dering telponku berbunyi dan ku lihat itu dari puspa.

"hallo assalamualaikum...." kuangkat telpon itu sembari jalan menuruni tangga penginapan menuju perkiran mobil didepan.

"waalaikumsalam, masssssssssss... kemana aja sih,,, gak ninggalin kabar sama sekali" puspa diujung telpon itu begitu terlihat sewot  karena aku beberaapa hari tidak bissa sedikitpun menghubunginnya.

"heheheh, jangan marah dong.. mas gak ada sinyal dek... disana terpencil sekali.. handphone aja kayak benda yang gak punya fungsi... beneran,, serius,,,," kau yang mencoba menjelaskan agar dia mengerti.

aku selalu terhibur dengan suaranya yang lucu itu, sifat bocahnya yang masih kental membuat dia terkadang menjadi hiburanku jikalau lelah menghampiri di tanah perantauan.

"udah ya jangan marah,, kan yang penting mas udah bisa dihubungin lagi kan jadi udah gak khawatir toh.. heheh" aku masih saja terus menggodanya nya...

"iya deh iya, maaf ya mas udah sewot, soalnya aku khawatir banget mas" nada manjanya itu membuat aku menjadikan ada rindu dan ingin cepat sampai di makassar.

sekarang mendadak rasa rinduku muncul untuk puspa. namun sosok uty masih berada dalam pikiranku juga.

aku melanjutkan perjalanan menuju tempat makan yang berada di dekat dermaga kapal rakyat di kota ternate.

dengan mengenakan pakaian dan tas pinggang yang masih kukenakan dari pulau dama karenaa pak haji tidak memberiku kesempatan berganti baju sebelum makan.

**
makanan ikan bakar tersedia di meja kami, kami menikmati sajian itu, perut yang sudah lapar angin berhembus sepot, ombak yang sesekali menghantam daratan menjadikan semua begitu pas.

hataman ombak itu menjadikan campuran gesekan hati antara kita, angin sepoy itu menunjukkan adanya yang berubah, menjadikan teduh dan terlalu indah untuk tidak memikirkanmu. dan sajian dimeja menjadikan hal terakhir untuk menutup kekosongan yang sedari tadi tertahan dan telupakan akan satu kata yang berarti.

yaitu rindu.

perbincanganku dengan pak haji kali ini tidak begitu semenarik bisanya, karena ada hal yang menjadikan aku sedikit tidak fokus dengan topik obrolan dengan pak haji serja kawan-kawan.
\
hal yang tidak begitu menjadikan fokus pada tema pembicaraan itu adalah sepucuk kertas yang entah kenapa ada di tas pinggangku, kertas asing yang tentunya bukan surat tugas ataupun surat keterangan sampel yang aku bawa. kertas ini begitu kusam, aku yakin ini sudah lama sekali, namun baru sebentar berada di kantongku.

pikiranku pun sudah mulai tidak begitu fokus, akhirnya kau meinta ke pak haji untuk kembali ke penginapan berdalih istirahat karena badan terasa capek.

sesampainya di penginapan aku pun masuk sebentar dan membersihkan badan

sedikit beristirahat sembari menikamti acara televisi yang menggantung di dinding penginapan.

kertas asing itu masih belum sempat aku baca...

aku putuskan untuk membacanya.


Kisah klasikku
Jika kamu tak ingin tak usah.
Biar saja batin masih tertidur dalam kenangan
Itu pun jika aku boleh berharap
Bisakah kamu yang akan membangunkanku dari tidurku
Aku yakin aku tidak tidur
Pelukmu akan kurasa suatu saat nanti
Dengan kerinduan yang begitu mendalam
Lalu setelahnya setidaknya aku bisa bersyukur karenamu.
Kurasa waktuku tak begitu banyak, ini akan begini?
Atau…
Ini akan? Ah sudahlah

Mungkin hanya kimia
Benar-benar kimia saja yang kau rasa. Sedangkan kurasa waktu
Waktu belum berhasil mengajariku
Hanya mengajarimu
Bukan kita
Atau hanya kamu ku pikir?
Segala hal tentang kamu
Duduk disebelahku, di kedai dengan musim semi eropa
Kamu yang menyampaikan satu hal sebagaimana manusia.
Aku manusia, lebih tepatnya wanita
Wanita yang selalu merindukanmu
Aku berhati juga,
Namun setidaknya musim semi ini yang akan mewakiliku
Menemaniku di setiap teguk kopi ini

Gottingen, musim semi ke dua
Dari ku di benua eropa
Untuk kamu bery.


ternyata kertas kusam itu sudah lama memang ditulis oleh uty, entah berapa tahun lalu, belum ada keternagan waktu yang tertulis.

yang jelas secara tidak sadar, perjalanan ku ke dermaga pulau dama tadi itu secara sengaja dan terencana uty menyelipkan supucuk surat itu ke tas pinggangku yang terletak posisi belakang punggungku.

surat itu diselipkan ketika pas aku sedang sibuk mengemas barangku masuk ke speedboot.

setelah membaca surat itu hati ini memang begitu tidak karuan, tadinya aku hanya ingin beristirahat namun hingga sore menjelang aku masih saja resah.

akhirnya aku pun memutuskan jalan jalan sore ke dermaga menikmati hembusan angin sore di pinggir pantai.

sebuah perahu nelayan yang sudah terparkir di dekat pantai itupun menjadi tempat duduk ku menatap ke arah utara. mengingat dan sembari sesekali menikmati rasa rindu akan pertemuan dengan uty.

aku pun memesan kopi hitam untuk mnikmati sore ini.

kopi sudah datang, aroma karbon dan wnaginya kaffein itu menghampiri

disitulah aku menyadari kamu sudah jauh dan kamu menyisakan kerinduan itu

rindu akan kamu dokter muda dengan mimpimu yang tak pernah padam serta kopi hitammu yang selalu menggugah adrenalin untuk tetap tidak leleh belajar dan terus belajar walaupun aku baru saja belajar untuk merindukanmu.


Bersambung....
SEE YOU NEXT WEEK GAIS



Minggu, 25 Oktober 2015

PAGI DAN PERTEMUAN YANG MENJANJIKAN

pasir yang terhapus ombak

pagi itu telah datang, uty menghampiriku dengan kopi hitamnya, sepagi ini dokter muda itu  telah begitu memperhatikanku, namun ini memang pagi yang kembali memberatkan kita untuk kesekian kalinya. pertemuan yang begitu mendadak menimbulkan perpisahan (kembali) setelah beberapa tahun lalu kami saling kehilangan.

Pak desa dan beberapa temanku sudah bersiap jalan menuju dermaga, barang bawaanku juga sudah tersimpan dan dibawa oleh zul ke kapal yang akan membawa kita menujuternate kembali. ombak pagi ini begitu ramah, tidak begitu berderu kencang, namun pasir tetap lah pasir yang akan terbawa dan berdesir pelan mengikuti arah ombak. pasir tetap lah pasir yang selalu terbawa dan disapu ombak. perasaan kehilang itu tetaplah ada, apalagi rasa ridnu yang hanya kita habiskan tak lebih dari purnama yang habis periode oleh putaran bumi. kamu tetaplah wanita yang selalu mencoba memberikan apapun yang kamu bisa dan terbaik untukku walau lebih sering aku tidak bisa membalas segala kebahagiaan yang kamu bawa untukku.

kini pagi sudah menjawab semua, rindu mempunyai waktu. sedangkan kehilangan hanya akan menunggu waktu. dalam pertemuan selalu ada perpisahan. teori empiris itu sudah menjadi akar dalam setiap roda kehidupan. sekarang aku akan kembali kehilangan, begitupun uty yang akan meghabiskan waktu untuk berpetualang dan berarti bagi negeri yang ia sangat cintai. walau seorang wanita aku rasa dia adalah wanita tangguh setangguh ombak yang selalu akan menemukan daratannya.

semua sudah siap meninggalkan pulau ini, tinggal aku yang terasa berat meninggalkan pulau ini. pulau yang akan menjadi tempat yang tenang dan damai dalam setiap pertemuan. pertemuaku dengan uty yang begitu sendu dan syahdu. aku berjalan pelan menuju dermaga bersama uty. melintasi setiap jalan berdua dengan diam sembari sesekali aku melihat wajahnya yang entah kenapa tidak semangat sekali. aku yakin dia sedang kembali menyembunyikan kesedihanya itu. dan memang selalu uty adalah karang hidup yang selalu bertahan dengan terjangan apapun walau akhirnya air mata nya adalah tanda terjatuhnya kekokohan hatinya itu.

beberapa meter lagi kami akan mencapai dermaga itu, dermaga yang akan memisahkan kita sampai waktu yang belum ditentukan. dermaga yang menggoreskan kenangan dimana aku melihat dan mendekap tubuhnya dengan erat untuk sekedar menenangkan dia akan sakitnya kerinduan itu. pasir pasir itu berbisik, suara ombak menjadi musik sendu yang akan membatasi kita kembali ke geografis berbeda.

"ber, kamu hati-hati ya, jaga baik-baik diri kamu" ucap uty tepat ketika kaki ini sudah meninjak pelataran dermaga.

" iya ty, kamu juga, kami jaga diri baik-baik, kamu jauh dari keluarga"  aku masih saja mencoba datar,

sebenarnya diriku juga masih menyembunyikan apa yang akan aku rasa pada uty. rasa kehilangan dan riindu yang masih belum usai. rindu yang terbatas waktu itu belum cukup waktu untuk ku tinggalkan.

namun langkah kaki ini harus maju kedepan meninggalkan sesuatu sebelum aku tertinggal akan kapal yang akan membawaku kembali pulang ke makassar dan bertemu dengan duniaku yang baru yaitu puspa.

aku masih yakin kopi hitam dari uty masih belum terkalahkan dan selalu menjadi pengobat rindu yang mempunyai batas waktu, senyum nya masih menempel dalam seteguk pertama kopi hitam itu. belum berubah sampai saat kita bertemu kembali tiba.

"ty, aku berangkat dulu ya, maaf aku masih belum bisa membuat kamu tersenyum" salam ini akan segera membawa kami ditanah yang berbeda.

"iya ber, aku yakin suatu saat kita bertemu lagi. kamu tetap semangat ya" sembari terseyum uty menghantarkanku masuk kedalam kapal yang akan membawaku ke ternate

nyala mesin kapal sudah mulai membising, membuat daya dengar kami menurun, dan akan meredam semua pembicaraan kami. kapal sudah mulai tergerak, tangan pak desa dan anggotanya melambai ke kami, melambai menemani kapal yang sudah mulai hengkang dari dermaga. kapal sudah mulai menjauh pelan pelan, terlihat uty yang masih berjalan meninggalkan dermaga dan turun kepantai sembari tetap melihat aku yang masih duduk di belakang dekat dengan mesin kapal yang sudah menjadi keras dengan buih air laut yang teraduk oleh baling-baling mesin.

masih berdiri diatas pantai pasir putih dan diantara bebatuan tempat pertama kami bertemu waktu itu. aku sudah tidak bisa jelas melihat mata dan wajahnya yang ayu itu. aku yakin air mata nya itu akan menetes kembali namun aku sudah menjauh dan entah bagaimana lagi aku harus tetap mengingatnya.

aku masih hanya berharap dan selalu memeluknya dalam doa, memeluk sebagai seorang sahabat yang banyak mengajarkanku semua lini arti perjuangan.

begitulah cara kami saling menghargai rindu dan selalu mengerti cara disetiap sisi ambisi dan misi, berbicara perjuangan dan artinya dalam segelas kopi hitam yang dibuat tidak dengan sekedarnya, namu dibuat berdasarkan perasaan terbaik yang menjadi kan kita tetap tersenyum, tertawa, bersedih serta mengerti arti dalam setiap teguknya.

Tegukan pertama, ada senyum yang menyelimuti rindu,
Tegukan kedua, ada arti dalam setiap bahasa diri dan komunikasi yang membuat tegukan ketiga menjadi hangat
Tegukan ketiga akan selalu menjadikan setiap perbincangan menjadi hangat dan berkesan disetiap sisinya, mengartikan manis nya pertemuan dan kebersamaan yang tak bisa dibayar dengan apapun
Tegukan berikutnya menjadikan setiap pemikiran menjadi tenang, menjadikan emosi teredam serta menjadikan air mata sepantasnya jatuh untuk sekedar menghargai perasaan yang terpendam
Tegukan terakhir memberikan arti bahwa setiap mimpi mempunyai titik pencapaian dan membuat menjadikan semangat baru untuk tetap Fokus meraihnya.

akhirnya kapalpun sudah menjauh dan tak lagi terlihat pulau dama yang menjadikan damai itu nyata, serta menjadikan pertemaun kembali itu begitu menjanjikan.

--- Bersambung ---
SEE YOU NEXT WEEK GAIS