Kamis, 28 April 2016
MENJEMPUT RINDU
engkau kah itu?
engkau kah yang turun bersama lirih suara hujan
engkau kah yang selalu dihembuskan angin sore
engkau kah yang selalu berdawai diantara sepi
engkaukah itu?
engkau yang berdamai dengan hati
tak terlihat dan bisa kurasa
wahai rindu
engkau kah itu?
bagaimana aku bisa menjemputmu
sementara ada samudra didepanku
terkadang kau mengubah tekad ku
melalui samudra di depanku
hanya sekedar untuk menikmati senyummu
dan perlahan engkau merebut segala keterbatasanku
disetiap sudut malam kini kau selalu ingin mengantar kehangatan, jarak ini begitu tidak rasional. kita sama sama tau bahwa air laut yang asin itu mengerus semua mineral dari bebatuan yang dilewati nya dan hulu menuju muara dan tercampur semua di laut. kini kita sama sama tau bahwa disetiap hari berlalu menjadikan kita semakin merindu.
jakarta, itu kotamu. makassar sekarang adalah labuanku. jarak itu kini benar benar menggerus semua bentuk hayalan dan lamunan sehingga terkumpul bersama dalam satu wadah yaitu rindu. ini sudah akhir tahun, genap 6 bulan keterpisahaan kita setelah pertemuan kita di kedai nona tua. gelombang digital memang sangat membantu kita untuk terus saling merasa dekat. namun sekarang aku merindukanmu.
malam ini kita berada di posisi nyaman kita masing-masing, berselimut malam, namun disini hujan akan turun. disana kau bilang cerah.
"selamat malam kamu disana"
sapaan wajib setiap malam kita itu menjadi nada pembuka untuk membuat gelombang rindu di hati terkumpul menjadi dawai canda yang siap kita nikmati bersama.
"hai, udah lama ya gak tatap muka, aku rindu kamu ndri"
sepenggal kataku tadi membuat dia tertawa manja.
"sama cit, aku juga kangen sama kamu. kamu kapan ke jakarta udah akhir tahun ini, udah lama tau"
kesibukan adalah penawar rindu diantara kita, kali ini kita juga sedang sibuk, kita sama sama di sibukkan dengan rindu. jadi masih ada alasan lagi untuk aku meredam rindu?
mungkin memang ini saat nya aku harus menjemput rinduku di jakarta, aku masih belum menemukan alasan lagi selain indri untuk terbang ke kota megapolitan itu. aku bukan merindu macet jalan dan ketidakteraturannya, aku hanya merindu berdiam diri menikmati macet bersama dia. aku tidak merindukan
Warna kuning termasuk warna hangat yang membawa keceriaan bagi penggunanya. Warna kuning ini juga digunakan untuk menandakan peringatan, karena kesan warnanya yang menarik dan dapat memantulkan warna cahaya di malam hari.
kamu mengingatkanku,
"jangan lupa bahagia cit"
bagiku cukup denganmu aku sudah sangat bahagia, lebih dari cukup.
perbedaan cuaca disana dan disini tidak begitu membuat kita sangat jauh beda. kita masih sama untuk saling beratap rindu, menuai dawai asmara dalam setiap gelombang-gemlombang rindu. kita tidak terpisah oleh samudra, namun kita terpisah beberapa selat yang membuat kita bisa menghargai rindu lebih berarti.
selat itu memang tidak seluas samudra, cuman banyak selat yang memisahkan kita. duduk disini dengan suaramu yang begitu dekat membuat rindu ini terpupuk sehat dan bersiap untuk meledak.
sebelum meledak memang, aku hendak menjemput rindu itu, karena pada dasarnya ketika rindu itu meledak emosi juga akan selalu bersinggungan dengan rindu itu. ya, sama-sama meledak.
hari ini jumat malam,
setelah kamu berpamit tidur, aku pun keluar mencari tiket di malam ini, untuk penerbangan pagi.
aku sudah memastikan kamu tidak ada kegiatan dia hari sabtu besok, hanya mengantor itu pun setengah hari.
setelah di pintu bandara ada pintu loket 24 jam yang masih terbuka, terlihat penjaga loket salah satu maskapai terlihta renggang dan bersantai, tidak ada antrian, aku pun pendiri tepat di depan loket yang terpisah hanya kaca dan lubang sebesar jengkal tangan yang memisahkan aku dan petugas tiket itu.
"selamat malam pak"
dengan logat makassar petugas tiket itu menyapa, dan seperti itu prosedurnya.
"mbk, tiket besok pagi ke jakarta masih adakah?"
"iye, masih pak, ada jam 6.45 atau 9.00 penerbangan langsung ke jakarta"
aku berpikir sejenak
"oke mbak, aku pesan jam 9.00"
perbedaan waktu makassar dengan jakarta adalah lebih cepat satu jam di makassar, dan indri selesai kerja jam 12.00. jadi aku tidak akan menunggu lama jika aku sampai di jakarta dan akan tepat sebelum indri pulang kerja.
oke, aku sudah mendapatkan tiket untuk sampai di jakarta besok.
aku hanya mempersiapkan raga ini sekali lagi untuk menjemput rindu dan mempersiapkan bertemu dengan kamu.
malam ini aku hanya sibuk menyiapkan coklat dan masih mencari tempat beli setangkai bunga. beberapa potong baju dan celana sudah masuk dalam ransel,,
semua akan kupastikan beres dan lengkap hingga pagi esok.
aku pun terlelap,
**
pagi pun datang, sedari subuh aku terbangun menanti mentari yang tentunya datang lebih cepat dibandingkan di waktu indonesia barat.
air pagi ini sangat hangat, tak sedingin biasanya, beberapa gayung membilas badan dan sudah siap menjemput pagi ini , semangat yang sangat hangat memberikan kesan yang bereda pagi ini.
aku sungguh sudah sangat tidak sabar sabtu pagi ini, biasanya aku melanjutkan tidur pagi. tapi ini aku sudah siap dan rapi untuk pergi ke bandara.
aku sudah sangat siap menjemput kamu, kamu yang selalu mendera hati, menusuk pikiran dengan hasil hormon yang meningkat lebih cepat. semua sudah siap, ku pastikan siap dan aku berangkat. ini membuatku rasanya ingin berlari cepat cepat, rasa klasik ini membuat semua penak dan lelah hilang. aku masih belum menatap kamu, artinya rindu ini adalah hutang. jika benar ini hutang maka pertemuan dan sekedar menatap mata indah dan manis senyum mu meruapakan harga yang begitu pantas untuk hutang ini.
sedari tadi aku hanya membahas rindu, nampaknya aku terlalu bersemangat, dan nampaknya memang bersemangat hari ini, ku sisir rapi tak se rapi setiap aku sisir rambut ini ketika pergi ke kantor. sabtu ini aku pergi ke kantor, tapi kantornya terletak tepat di kamu. iya kamu.
aku sudah di bandara, lebih cepat datang dari pesawat yang akan membawaku ke jakarta pagi ini, bahkan ini terlalu cepat. menunggu dengan secangkir kopi kurasa bisa cukup membantu.
secangkir kopi hitam di sebuah kedai kopi komersil, aku duduk sesekali melihat jam dan melihat papan pengumuman boarding. meninggalkan beberapan ucapan dan sapaan pagi ke kamu.
"selamat pagi kamu yang di indonesia barat"
"halo kamu.. indonesia timur, masih pagi dan libur tumben udah bangun cit? kamu baik-baik ajakan?"
"aku sangat baik dan hampir bahagia sempurna pagi ini... "
"ihhh pagi-pagi udah ngelantur.... kamu gak kenapa kenapa kan cit? duhh makin kangen deh sama kamu"
"iya sama, rindu kita sama, sama sama belum terseduh di cangkir masing-masing"
" yaudah cepet ke jekarta ya kalo ada waktu"
kamu adalah alasan ku untuk pergi ke megapolitan itu, suasana caruk matuknya tidak membuatku rindu, tapi hati caruk-maruk tentang semua rindu arahnya ke kamu adalah yang paling menjadikan aku ingin kesana menyelesaikan kecaruk marukan ini.
papan boarding sudah tidak lagi menyebutkan penerbangan GA-620 menuju jakarta menandakan waiting room pagi para penumpangtnya.
tak benar benar habis ini kopi terpaksa kau harus beranjak dari kursi tunggu menuju tempat menunggu yang lain, berjalan menuju tempat tunggu lain tapi ku sadar aroma panggangan kopi di kedai itu adalah aroma pembuka pagi ini, pesonanya sungguh elok dan menyeduh semua rasa bosan dan rasa terburu-buru, aroma kopi itu sungguh menggoda dan meningkatkan rasa ingin cepat bertemu dengan rinduku.
boarding time
saatnya duduk dan terbang...
menembus awan bersahaja sang mentari terlihat, diatas persada negeri ini aku terbawa melewati beberapa selat dan mengarungi laut jawa serta bebukitan bahkan gunung. jaman sekarang tidak ada yang tidak bisa bahkan untuk ribuan kilometer bisa hanya dalam jam, tak heran semua orang rela bekerja keras dan ketika mereka lelah mereka rela menembus batas hanya untuk apa yang harus mereka lunasi kepada orang yang mereka sayang. sudah aku sebutkan bahwa rindu adalah sebuah hutang yang pantas untuk di bayar dengan pertemuan.
jakarta siang.....
kamu masih belum merasa kehadiranku, aku masih sangat merahasiakannya. pukul 10 tepat, mendarat dengan selamat.
aku segeraa mengambil taksi menuju daerah kemang, cukup jauh jaraknya dari bandara, lagipula ini masih belum begitu macet sabtu ini. kunaiki itu taksi putih yang bertarif paling murah, tidak begitu mengantri hari ini taksi. ku mulai perjalananku menuju kemang,
jakarta masih belum banyak yang berubah, jalan tol dan gedung tinggi nya masih tidak ada yang begitu signifikan berubah, megapolitan ini masih sangat berjasa untuk hubungan kami.
jakarta oh jakarta....
pak supir membawa aku melewati jalan toll tercepat menuju kemang, tepat di kantor indri aku turun.
kemudian aku masuk dan menanyakan ke resepsionist jam pulang karyawan bagian manajemen, dan waktu di ruangan yang serba merah muda dengan tempat duduk sofa yang nyaman tempat pas untuk menunggu. sekarang sudah masuk pukul 11 siang waktu indonesia bagian barat. aku menanyakan jam pulang kantor kepada resepsionis,
"mbk, biasanya karyawan kalo sabtu pulang jam berapa ya?"
"biasanya sih siang mbk jam 12 pada udah pulang mas"
"oh iya makasih mbak."
lumayan satu jam menunggu kembali, tapi tidak apalah, lagi pula aku segera bertemu dengan muara rinduku.
sembari menghilangkan penat untuk menunggu, aku mencoba menghubungi kamu via chat seperti biasa.
"hai muara rindu, arus ini mulai deras membawa rindu untuk segera sampai di muara"
"ihhh, kamu tumben tumben sih, kamu habis kebentur apa sih?"
"aku hanya terbentur waktu yang ingin sekali ku potong dan ku percepat, kemudian ketika aku sudah di muara rindu aku ingin memperlambat waktu itu."
"kamu ini lagi dimana sih... gombal mulu ih..."
kamu makin kebigungan dengan tikatku lewat pesan digital ituu, dan kamu masih belum menyadari kita di kotak yang sama dan di koordinat yang sama juga. aku rasa tak banyak pekerjaanmu hari ini hingga kamu sempat membalas pesan digital yang tidak begitu penting ini, ya setidaknya yang lebih penting adalah beberapa menit lagi kita akan bertatap muka.....
tepat pukul 12 waktu indonesia barat.....
bersambung......
Sabtu, 19 Maret 2016
Roboh nya Surau Kami
Robohnya Surau Kami
Karya : AA Navis
Karya : AA Navis
______________________
ini merupakan cerita yang menginspirasi bagi saya, bagaimana tidak. ini adalah sebuah makna dalam hidup, karena pada dasarnya hidup itu terus bergerak dan oleh karena itu sebagai manusia kita harus selalu berusaha. jikalau tuhan melihat dan mengawasi kita, maka tidak mungkin dia membiarkan kecewa seorang hamba yang berusaha. oleh karena itu bekerja merupakan ibadah.
yuk masuk ke ceritanya.....
Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu.
Orang-orang memanggilnya Kakek. Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa.
Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan sedikit senyum.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku,ka rena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"
"Ajo Sidi.""Ajo Sidi?"
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yangdiceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"
"Siapa?"
"Ajo Sidi."
"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.
"Kenapa?"
"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."
"Kakek marah?""Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."
Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-pujiDia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."
Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"
"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemunanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.
‘Engkau?’
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘Apa kerjamu di dunia?’‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’
Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya.Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.
‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.
Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’
Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.
‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.
‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.
Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.
Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.
Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’
Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkaujanjikan dalam Kitab-Mu.’
‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’
‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’
‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"
Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’
Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.
"Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut.
"Kakek."
"Kakek?""Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali.
Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."
"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.
"Tidak ia tahu Kakek meninggal?""Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."
"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"
"Kerja."
"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa."Ya, dia pergi kerja.
Sabtu, 27 Februari 2016
PIGMEN SETIAP SENYUMMU
Bagaimana pun aku tidak bisa lupa dengan senyumanmu, disetiap aku bersamamu (dulu) aku tidak pernah kehabisan kata untuk selalu memuji kamu dan bisa melihat senyummu.
setiap buah memiliki pigmen, pigmen itu zat, setiap warna itu berbeda pigmen. kamu yang suka sekali dengan hidup sehat dan selalu memperhatikan kesehatan dan kebersihan menjadikan itu sangat terlalu sempurna di benak pikirku.
setiap aku menemanimu berbelanja di pusat perbelanjaan ada satu hal yang tidak kudapatkan dari wanita manapun. kamu selalu menghitung dengan tepat semua yang berhubungan dengan angka dan kehidupan. bahkan untuk sekedar porsi yang kamu akan makan hari ini.
kulitmu yang tejaga membuat semakin merekah senyummu. karena memang pada dasarnya apa yang dijaga dengan baik maka hasilnya tidak pernah mengecewakan.
kemudian aku masih mengikutimu bukan di belakangmu, namun di sampingmu.
semenjak kepergian puspa ke jakarta untuk melakukan magang kerja dan penelitian tugas akhirnya, kedekatanku dengan vivi semakin hari menimbulkan makna. makna yang terpendam dan tidak bisa diungkapkan satu sama lain. karena satu sama lain saling menjaga.
menjaga perasaan yang dimana tidak akan lagi ada yang dikorbankan dan di relakan. cukup perasaan saja yang kita korbankan.
tentu kedekatan puspa dengan vivi juga terpampang di depanku dan aku adalah saksi hidup kedua sahabat ini saling memaafkan masa lalu yang kelam itu.
"mas, gimana sama uppa?"
pertanyaan itu akhirnya muncul juga.
setelah beberapa minggu ini aku lebih sering menikmati kopi di meja 22 itu dengan vivi, dan hanya menikmati malam serta curhatan nya tentang usaha keluarga nya yang semakin hari semakin berkembang itu. aku pikir dia tidak akan merusak kenyamanan ini menjadi kecanggungan yang luar biasa. dengan pertanyaan itu membuat ada rasa canggung yang selalu aku tidak ingin munculkan, muncul juga.
Menang komunikasi ku dengan puspa juga masih baik-baik saja, dan bahkan kami terkadang menghabiskan waktu bersama lewat jaringan.
kemajuan teknologi jaman sekarang membuat yang jauh semakin dekat dan terasa ttidak berjarak. tapi bagaimana pun 2 malam minggu terakhir dengan vivi mengubah sudut pandangku.
vivi yang berpikir sangat dewasa dan profesional membuat nya memang sangat berkarakter dan pantas menjadi pimpinan selanjutnya usaha keluarga yang dirintis oleh orang tuanya.
puspa juga sering membahas vivi, tentang kehidupan vivi yang begitu melankolis dan penuh perjuangan.
semenjak kepergian bapak dan ibunya yang mendadak, vivi adalah orang yang paling merasa kehilangan, si bungsu itu memang adalah anak yang paling sedikit menikmati masa nya dengan bapak dan ibunya. namun pembelajaran hidup dan didikan kakak-kakaknya membuat dia menjadi wanita yang ampai saat ini begitu profesional, bahkan untuk hal menyimpan perasaan dia tetap menjungjung tinggi rasa profesionalnya.
aku belum menjawab pertanyaanya tadi, hanya berhenti sesaat di rak buah dan sayur, melihat semua tertata rapi berdasar jenis dan pigmen yang sama. tapi berbeda dengan perasaan kita saat ini.
kemudian aku mengingat sebuah kutipan dari pemeluk agama kopi
"menyusuri langkah, belajar atas pertanyaan yang meragukan kenyataan" --Ristretto21
dia masih memeilih-milih didalam rak itu, dia masih belum menemukan pigmen yang dia cari.
pigmen kuning dari karotenoid buah, yang menandakan buah itu metang karena reaksi pH yang dihasilkan sudah mencukupi untuk membuat setidaknya rasa dan tekstur buah berubah menjadi lebih lunak dan manis.
"kuning ini merupakan respirasi kerinduan karena perasaan yang sudah menguning" vivi mengambil buah mangga yang sedari tadi dia cari bagian kuningnya.
aku masih tidak ingin membuat suasan menjadi semakin canggung lagi atau bahkan bertambah canggung. sedangkan kamu sedari tadi masih salah tingkah sendiri menghadapi perasaan yang lain yang sudah mulai kita rasa.
"yuk mas, kita lanjut"
"apa yang mesti dilanjutkan? kita belum memulai."
"apaam sih mas"
perbincangan kita pun sudah mulai terbawa suasana, tapi aku mencoba mengembilkan suasana yang tidak secanggung ini.
dia kembali tersenyum, senyum bibir tipis bergincu merah itu memancarkan pigmen merah, dimana senyum itu dapat mudah larut di hati siapa saja. bukan lagi senyum profesionalnya seperti biasa tapi senyum berasa ini menjadikan aku semankin paham bahwa wanita itu memang mudah di pahami tapi sulit di representasikan perasaannya itu.
tidak sesederhana itu, hanya saja sikap saling menghargai masih menjadi barier yang mungkin belum terobohkan hingga saat ini.
kami berjalan keluar dari supermarket menuju lantai bawah dari pusat perbelanjaan ini, ke arah parkir sambil berjalan santai berdampingan.
"kita mau kemana lagi kah ini" tanyaku
"kita ke coffe shop yuk mas, ada tempat baru yang lumayan asik kayaknya buat nikmati senja"
memang ini masih pukul 4 sore, saat tepat untuk menunggu senja,
lagi dan lagi senja menjadi labuan kisah serta cara menikmati kisah di pengujung hari
kami akhirmya sampai di kedai kopi bernuansa modern dengan suguan lagu sendu dan semua pandang ke arah barat tepat di bibir pantai losari.
kedai kopi baru ini terletak di sebuah hotel dan berada di lantai 3 dan seluruh bagian kedai tertutup hanya ada satu sudut pandang kaca yang langsung menhadap senja.
musik sendu alunan mendayu membuat kami saat ini duduk bersebelahan menghadap kaca bak sebuah teater matahari tenggelam dengan suguhan senja yang amat indah.
kami duduk sebelahan tepat pukul 5, lagu semakin membuat nan romantis suasa disini, kepala vivi kemudian tersandar di bahu kanan ku, tak kuasa aku untuk tidak menikmati senja seromantis ini
SEE YOU NEXT WEEK GAIS....
Langganan:
Postingan (Atom)


